Genap sudah 7 tahun aku merantau, sejak lulus SMP hingga sekarang memasuki semester ke-9 kuliah. Pandemi "memaksa" aku untuk pulang kampung 6 bulan lamanya. Rekor di rumah terlama sejak 7 tahun ini. 6 bulan di rumah dengan progres tugas akhir yang entahlah mengajariku banyak hal tentang bagaimana akan ada banyak sekali manis dan getir dalam … Lanjutkan membaca PETANI KARET DAN HUJAN DI SORE HARI
Usia 21 : Sesal, syukur, dan takut.
Memasuki semester ke-9 perkuliahan. Menjalani tahun ke-21 kehidupan dan menuju tahun ke-8 merantau sering membuat saya berpikir banyak hal. Hal-hal yang disesali, disyukuri, ditakuti, semua memenuhi ruang kepala. Mungkin ini yang namanya overthinking. Mohon doanya, semoga saya lekas meninggalkan fase ini. Salah satu hal yang saya sesali adalah, kenapa ya selama kuliah 4 tahun ini … Lanjutkan membaca Usia 21 : Sesal, syukur, dan takut.
Mutiara Rara
Rara adalah seorang gadis berusia 25 tahun. Ia adalah gadis yang baik, pintar dan cantik, tapi sedikit dingin. Dia lebih suka pergi kemanapun sendiri, tidak seperti perempuan pada umumnya yang suka pergi bergerombol. Temannya tidak banyak, tidak juga sedikit. Biasa saja. Dia belum menikah, belum kepikiran, masih sibuk mengejar karirnya. Ia juga punya masalah aneh. … Lanjutkan membaca Mutiara Rara
Helikopter
"Lho, Le, ono pesawat kae abane" (lho, nak, ada pesawat itu suaranya). Suara ibu terdengar dari arah dapur. Adik yang sedang main bersamaku di ruang tamu langsung berlari ke arah teras. Di teras rumah sebelah juga ada 4 gadis kecil, sepupu-sepupuku dan teman-temannya, yang juga berlari entah dari arah mana. Semuanya kompak mendongak, melihat langit. … Lanjutkan membaca Helikopter
Untuk Adik
Tulisan ini ditulis di pagi hari, saat adik saya sedang sibuk bermain dengan teman-temannya dan saya dicuekin. Adik saya berusia 10 tahun, kelas 5 SD. Ternyata pertemuan pertama saya dengan bayi kecil yang selalu bersin-bersin di pangkuan simbah waktu itu sudah terjadi 10 tahun yang lalu. Ternyata momen saya excited saat adik masuk TK juga … Lanjutkan membaca Untuk Adik
CERITA DARI SIMBAH
"Mbah, daerah ini dulu berarti sepi, ya?" Tanyaku tiba-tiba saat sedang duduk berdua di teras bersama simbah wedok (nenek). Pertanyaan ini mungkin sudah ratusan kali ku tanyakan sejak kecil, tapi entah kenapa, aku selalu saja antusias ingin mendengar jawabannya kembali. "Iya, nduk. Dulu daerah ini ya isinya alas (hutan). Jarak antar rumah jauhhh." Jawab simbah. … Lanjutkan membaca CERITA DARI SIMBAH
“SARMIN”
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah kepada kalian. Empat bulan lamanya blog ini tidak saya kunjungi. Pemantik yang membuat saya kembali menengok blog ini adalah pertemuan saya dengan seorang pria paruh baya siang ini. Pertemuan yang mengingatkan saya kembali untuk tidak terlalu banyak khawatir dengan kehidupan. Nama pria paruh baya itu, … Lanjutkan membaca “SARMIN”
Lembah Poponi
“Lain kali, mungkin Kak Noma bisa mengatakan hal seperti itu langsung padaku saat kita berdua saja, atau berbisik padaku pelan-pelan saja, bukan di tengah keramaian dengan berteriak seperti tadi”. Abu si kurcaci kecil sedang menahan tangis, berbicara pada Noma, kakaknya. Malam ini, di kampung mereka di Lembah Poponi, Abu si kurcaci sedang suntuk belajar di … Lanjutkan membaca Lembah Poponi
Celoteh Bunga di Tokyo
“Apa tujuanmu menulis?” Jika kita diberi pertanyaan seperti itu, kira-kira apa jawaban kita? Curhat? Ingin terlihat keren? Iseng? Atau apa? Bagiku, menulis adalah seni bicara tanpa suara. Aku punya seorang kawan lama. Dia yang mengajarkanku tentang apa arti menulis. Kawan lamaku ini pemalu. Mulutnya jarang sekali terbuka, suaranya bergetar tak karuan saat bicara. Tapi, jika … Lanjutkan membaca Celoteh Bunga di Tokyo
Ikhlas: nasihat untuk diri sendiri
Yogyakarta, 25 Februari 2020 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah kepada kalian. Sudah setahun lebih ternyata, sejak terakhir kali saya menulis di blog ini. Segala macam kesibukan (dan kesenangan) duniawi ternyata telah begitu banyak merenggut waktu saya. Sore ini, seusai hujan, di depan ruangan dosen, dengan begitu banyak hal memenuhi … Lanjutkan membaca Ikhlas: nasihat untuk diri sendiri