Inside Out

Hari ini, saya melihat sebuah berita yang membuat hati saya rasanya sedih sekali. Berita tentang seorang ibu yang memb*n*h ketiga anaknya yang masih kecil. Kamu sudah cukup sedih membacanya? Well, kesedihanmu pasti akan bertambah berkali lipat setelah kamu melihat video sang Ibu sedang bicara tentang alasan atas perbuatannya tersebut di dalam sel tahanan.

Kurang lebih, beliau berkata begini :
“Saya cuma mau taubat sebelum saya m*ti. Saya cuma mau menyelamatkan anak-anak, biar ga dibentak-bentak. Mendingan m*ti aja, ga perlu ngerasain sedih. Harus m*ti, biar ga sakit, kayak saya dari kecil. Ga ada yang tau saya memendam sendiri puluhan tahun.”

Saya tidak membenarkan atau mencoba meromantisasi perbuatan yang dilakukan oleh ibu tersebut. Hanya saja, perasaan tidak bisa bohong bukan? Saya sedih. Ingin rasanya saya memeluk ibu tersebut, mendengarkan cerita beliau, membantu sebisa saya, memberi apa yang bisa saya beri. Begitu pula, saya ingin melakukan hal yang sama pada anak-anak beliau.

Berita tersebut membuat saya jadi teringat kembali dengan film yang belum lama ini saya tonton. “Inside out”. Film yang poluler, mungkin kamu juga sudah menontonnya. Saya sudah menonton film itu saat saya masih SMA. Dulu, rasanya film itu lucu saja. Banyak percakapan dan adegan jenaka di dalamnya. Tapi, ketika saya menonton film tersebut lagi di usia saya yang hampir 23 tahun ini, film itu terasa berbeda.
.
.
.
Ada 5 “orang” yang bekerja di “kantor” pusat otak Riley, seorang gadis berusia 11 tahun. 5 orang tersebut adalah Joy, Fear, Disgust, Anger, dan Sadness. Joy, si pembawa sifat riang, selalu dianggap sebagai orang paling penting di kantor. Joy selalu membuat Riley bahagia, riang, dan optimis. Fear, Disgust, dan Anger juga dianggap cukup penting di kantor. Fear menjaga Riley tetap aman. Disgust mencegah Riley dari “keracunan” dari segi makanan dan sosial. Anger membantu Riley mempertahankan diri.

Namun, ada satu orang yang dianggap sebagai pembuat masalah di kantor. Sadness. Dia selalu membuat Riley sedih dan menangis. Joy, Fear, Disgust, dan Anger selalu berusaha menjauhkan Sadness dari panel kontrol otak Riley, supaya Riley tidak sedih.

Riley adalah anak yang periang karena Joy yang dominan bekerja di otaknya. Namun singkat cerita, Riley mengalami kejadian tak menyenangkan dalam hidupnya. Dia dan keluarganya pindah rumah. Mereka pindah ke kota yang menurut Riley “aneh” dan rumah yang menurut Riley tidak nyaman. Banyak hal menyebalkan yang Riley alami di tempat tinggal barunya sehingga Sadness mulai banyak bekerja di otak Riley.

Joy, Fear, Disgust, dan Anger selalu berusaha menjauhkan Sadness dari panel kontrol. Namun, hal tersebut justru membuat Sadness tanpa sadar sering menyentuh bola memori dalam otak Riley yang membuat kenangan dalam bola memori tersebut berubah menjadi kenangan menyedihkan.

Singkat cerita, Joy dan Sadness terlibat kegaduhan yang membuat mereka bersama dengan “memori-memori inti” tersedot keluar dari kantor inti otak Riley sehingga yang tersisa di kantor hanya Fear, Disgust, dan Anger. Tersedotnya memori-memori inti Riley membuat pulau kepribadian Riley nonaktif sehingga sifat Riley menjadi tidak seperti Riley yang biasanya. Ketidakhadiran Joy juga membuat sikap Riley berubah menjadi anak yang tidak lagi ceria dan optimis. Riley menjadi anak yang tidak percaya diri, sinis, dan pemarah karena hanya ada Fear, disgust, dan Anger di dalam kantor pusat kendali otaknya.

Joy dan Sadness berusaha kembali ke kantor pusat kendali otak sambil membawa memori-memori inti Riley. Dalam perjalanan tersebutlah, Joy akhirnya menyadari kegunaan adanya Sadness di otak Riley. Sadness bisa membuat perasaan Riley menjadi lebih lega. Sadness bisa memberikan tanda pada orang di sekitar Riley bahwa Riley sedang berada dalam kondisi yang berat dan butuh untuk disupport. Sadness membuat keadaan jadi lebih tenang, sehingga setelah itu Joy, Fear, Disgust, dan Anger bisa bekerja dengan keadaan yang lebih kondusif.

Singkat cerita, Joy dan Sadness berhasil kembali ke kantor setelah melewati berbagai hambatan. Joy lalu menyerahkan panel kendali otak Riley pada Sadness. Fear, Disgust, dan Anger kaget melihat hal tersebut. Namun, ternyata benar, kinerja Sadness berhasil membuat Riley menangis dan akhirnya merasa lebih lega. Sadness membuat Riley lebih bisa terbuka pada kedua orang tuanya. Keadaan pun akhirnya mulai menjadi lebih baik.
.
.
.
Film ini pesannya ternyata dalam sekali. Banyak dari kita sering kali menganggap bahwa kesedihan adalah emosi yang sebaiknya dipendam saja. “Ngapain sih nangis? Lemah banget kayak bocil. Drama deh.”, sering kan ya kita mikir gitu? Hehehe.

Padahal, kalau emosi negatif itu dipendam terus, emosi itu bisa meledak dan membahayakan diri kita sendiri dan orang di sekitar kita. Allah memberi kita rasa sedih dan air mata pasti ada manfaatnya, kan? Sejauh ini, saya rasa, manfaatnya ya tadi. Selain untuk menangis karena mengingat dosa dan bertaubat, rasa sedih dan air mata juga berguna sebagai “saluran pembuangan emosi”.

Maksudnya gimana?
Jadi, kalau rasanya emosi kita sudah berlebihan dan perlu dikurangi, ya kurangi aja. Kalau rasanya beban kita sudah berat, ya sedih aja dulu gakpapa. Kalau pengen nangis, ya nangis aja. Cerita aja dulu ke orang yang bisa kita percaya. Buang dulu emosi negatif kita, supaya otak kita tidak terlalu penuh dengan itu. Supaya kita tidak meledak. Supaya kita tidak melukai diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.

Jika kamu bisa mengkomunikasikan sedihmu tanpa menangis, boleh. Tapi kalau sedihmu ternyata perlu dikeluarkan dengan air mata, itu juga boleh. Gak ada yang salah dengan menangis. Menangis bukan tanda bahwa kamu lemah, tapi tanda bahwa kamu manusia yang punya perasaan. Kadang memang malu sih ya udah besar kok nangis. Tapi ya gimana dong, daripada meledak?

Saya sih biasanya, kalau malu, nangisnya sambil ngumpet, hihihi. Terus habis itu, nyari temen cerita yang bisa dipercaya.
Kalau ga ada temen?
Ya, bisa cerita sama diri sendiri (self talk di depan kaca), atau cerita sambil nulis, atau yang paling utama, cerita ke Allah. Intinya, tergantung diri kita sendiri deh, bisa merasa lega dengan cara yang seperti apa?

.

.

Lalu, kembali ke kisah ibu tadi. Mendengar ucapan beliau, saya jadi berpikir, benar bahwa sebelum memutuskan untuk “hidup bersama” dengan orang lain, kita memang harus sudah selesai dengan diri kita sendiri dulu. Pemikiran yang wajar kan ya untuk perempuan berusia 23 tahun? Hehehe.

Sepaham saya sejauh ini, emosi yang meledak itu bisa disebabkan oleh 2 hal.
Yang pertama adalah emosi negatif yang tidak pernah dikeluarkan tadi, sehingga kalau sudah terlalu penuh, ya meledak.
Yang kedua, luka yang belum diobati, sehingga kalau kesenggol dikit dia akan terasa sakit sekali, dan bisa bikin “meledak” juga.

Banyak dari kita (termasuk saya dulu, sekarang masih bekajar terus buat memperbaiki) selalu hanya menutup luka, lalu mengalihkan perhatian dari rasa sakit itu ke hal-hal fana seperti makanan, hiburan, dan lain sebagainya. Padahal, lukanya masih ada, belum diobati, masih sakit kalau disentuh atau tersenggol tanpa sengaja.

Kita tahu, bahwa akan banyak terjadi sentuhan dan senggolan saat kita hidup bersama dengan orang lain. Menurut kamu, apa yang akan terjadi jika kita hidup bersama dengan orang lain, sementara diri kita masih banyak lukanya? Akan sering kesenggol kan? Akan sering sakit kan? Makanya, lukanya harus diobati dulu. Kita harus selesai dengan diri kita sendiri dulu. Iya, kan? Maka, ya itu. Kamu sudah selesai dengan diri kamu sendiri belum? Kalau ternyata belum, selesaiin yuk. Maybe it’s not gonna be easy, but try your best. Allah will guide you, InsyaAllah.

Di sisi lain juga, saya jadi makin sadar bahwa saya harus terus melatih empati saya. Kalau ada orang yang sedang terlihat sedih, kalau bisa, coba sapa dan senyum padanya. Jika dia ingin cerita, coba dengarkan dengan seksama. Sapaan kamu, senyum kamu, telinga kamu, mungkin akan sangat membantu. Lagi pula, cerita-cerita mereka biasanya selalu menarik, selalu penuh hikmah, selalu memberi pelajaran baru asal kita mau mendengarkannya dengan tulus. Beneran. Cobain deh, hehehe.

Well, tidak semua orang mengerti bahwa emosi negatif harus dikeluarkan (tentunya dengan cara-cara yang baik). Tidak semua orang mengerti bahwa luka harus disembuhkan. Jika kamu adalah salah satu orang yang sudah mengerti tentang hal itu, Alhamdulillah, kamu harus sangat bersyukur karena Allah sudah memberimu pemahaman tentang hal itu. Jika kamu pinya circle yang bisa kamu ajak berbagi keluh kesah (bukan berbagi gosip ya), Alhamdulillah, tidak semua orang Allah beri teman-teman yang baik dan selalu ada seperti itu. Kamu sungguh beruntung, dan Allah sungguh sayang pada kamu.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan rahmat Allah. Aamiin.

Tinggalkan komentar