Coffee Shop

Hai..

Sudah lama saya tidak menulis blog. Malam ini, saya sedang menemani teman saya mengerjakan skripsi. Sudah sepekanan ini sebenarnya, hampir setiap sore hingga malam, saya menemani dia. Membantu mencarikan dan mentranslate jurnal, menjadi teman diskusi tentang enaknya kalimat penulisannya bagaimana, atau sekedar menemani duduk sambil minum kopi atau cokelat hangat.

Jarum jam menunjukkan hampir pukul 8 malam. Kami sudah duduk di coffee shop ini sejak selepas ashar tadi. Karena sudah cukup lelah, akhirnya kami istirahat dan ngobrol-ngobrol dulu. Entah apa tadi topik awalnya, hingga akhirnya obrolan kami berlanjut pada topik tentang perbedaan pendapat dengan orang tua. Yaaa.. Masalah klasik yang banyak dialami oleh teman-teman seumuran saya saat ini.

Kamu pernah berbeda pendapat dengan orang tua?
Bagaimana kamu menghadapinya?

Saat saya kecil, jika saya berbeda pendapat dengan orang tua, mungkin yang akan saya lakukan adalah menangis, merajuk, lalu sim salabim, pendapat saya yang diiyakan. Simple. Senjatanya cukup airmata dan bibir maju beberapa senti saja.

Tapi, perbedaan pendapat dengan orang tua akan jadi jauh lebih rumit saat hal ini terjadi ketika kamu sudah “dewasa”. Perbedaan pendapatnya bukan lagi tentang mau beli tas warna ini saja, atau mau diajak pergi jalan-jalan ke sana saja. Perbedaan pendapat yang terjadi akan jauh lebih rumit dari itu. Lebih serba salah. Lebih dilematis.

Saya jadi teringat cerita salah seorang teman saya yang lain, beberapa waktu lalu saat kami sarapan soto bersama. Dia bercerita tentang ibunya yang menelepon dan bilang begini, “Nak, temanmu tadi ke sini. Dia pakai earphone tapi tidak ada kabelnya. Buagus e.”

Teman saya itu tertawa, lalu bilang bahwa ibunya aneh-aneh saja. Dia saja tidak punya earphone seperti itu, lha ini kok ibunya malah pengen. Mau dipakai buat apa? Tapi, ya sudah, biar ibunya senang, akhirnya dia belikan. Walaupun akhirnya ibunya juga bingung bagaimana cara memakainya, harus diajari via videocall dulu. hehehe.

Teman saya itu lalu bercerita lagi tentang dosennya, seorang profesor di bidang nutrisi. Dosen tersebut pernah bercerita di kelas bahwa ibu beliau pernah meminta untuk dibelikan air minum kesehatan. Katanya, air itu bagus sekali untuk kesehatan. Dosen tersebut, yang seorang profesor di bidang nutrisi, tentu tahu bahwa hal itu hanyalah overclaim dari penjual produk air minum. Mitos saja. Namun, agar ibu beliau senang, beliau tetap membelikannya.

“Tau gak, Sel? Bapak itu bilang begini. ‘Kalian dulu saat belum bisa bicara, ibu kalian dengan sabar mengajari kalian bicara. Orangtua kalian lalu menyekolahkan kalian hingga jadi pintar. Lalu, saat kalian sudah pandai bicara, sudah jadi lebih pintar dibandingkan mereka, kenapa kalian gunakan kepintaran itu untuk menyanggah orang tua yang sudah mengajari kalian bicara dan menyekolahkan kalian hingga sarjana? Toh permintaan orang tua kalian tidak sulit. Turuti saja lah, supaya mereka senang’.”

Teman saya lalu melanjutkan lagi, “mungkin, nantinya kita akan mengalami perbedaan pendapat tentang hal-hal yang jauh lebih kompleks dari itu. 2 kasus tadi kan contoh remeh-temehnya saja. Tapi, intinya ya tadi, turuti saja dulu maunya orang tua. Biar mereka senang. Bagaimana hasilnya nanti, kalau niatnya untuk berbakti kepada orang tua, insyaAllah akan Allah mudahkan. Kalau masih bisa dinego sedikit-sedikit, boleh lah. Tapi, jangan sampai membuat mereka sedih.”

Saya mengangguk-angguk, setuju dengan perkataan teman saya. Saya senang juga saat itu, bersyukur punya teman yang bisa memberi nasihat dengan storytelling yang bagus. Saya dapat nasihatnya, tapi tidak merasa sedang dinasihati.

Dan, ya, begitulah sedikit cuplikan obrolan saya dengan dua teman saya. Enggak, kami tidak selalu bicara serius begini kok. Banyak juga bercandanya. Saya cuma ingin sharing bagian agak seriusnya saja, karena saya rasa, sepertinya memang banyak yang relate ya dengan kondisi ini? Hehehe.

Udah, segitu aja ceritanya. Sekarang saya masih di coffee shop (yang selama sepekan ini hampir setiap hari saya kunjungi), menemani teman saya yang sudah melanjutkan menulis skripsinya. Mohon doanya ya semoga dia dimudahkan jalannya 😁

Sudah, segitu saja. Semangat teman-teman. Semoga Allah mudahkan kita untuk berbakti pada kedua orang tua 🙂

Tinggalkan komentar