Gulma

Di awal-awal pandemi, kegiatan yang banyak saya lakukan adalah berkebun. Saya menanam jagung, sawi, cabe, terong, dan tomat di lahan sekitar rumah, terinspirasi oleh video-video “Liziqi” di YouTube. Saya mencangkul lahan dari pagi hingga awal siang, istirahat menjelang dzuhur, lalu lanjut lagi di sore hari. Awalnya, saya masih rajin pakai sunscreen dan kain pelindung wajah, tapi lama-lama saya malas juga hehehe. Setelah sekian lama berkebun, Alhamdulillah kebun saya akhirnya selesai. Rapi, cantik, bersih, walaupun sebagai gantinya kulit wajah dan tangan saya harus gosong karena kepanasan setiap hari.

Saya happy sekali, merasa jadi Liziqi gitu. Setiap hari saya menyiram kebun, membersihkan gulma, menyemai benih, membuat pupuk cair, memupuk tanaman, seru deh pokoknya. Saya tidak memakai pupuk, pestisida, maupun herbisida sintetis sama sekali, biar organik, sehat, dan keren hehehe. Tapi lama-lama, ada hal yang bikin saya agak kesel. Kenapa tanaman yang saya tanam kurus kurus, tapi gulmanya subur subur?

Saya pun bertanya ke beberapa teman saya yang berkuliah di fakultas pertanian. Diagnosanya macam-macam. Ada yang bilang normal, ada yang bilang kurang air, ada yang bilang kena penyakit, ada yang bilang memang tanamannya kalah oleh gulma, bahkan ada yang ngasih kata-kata mutiara bahwa gulma dan hama itu bukan masalah, tapi sedekah wkwkwkw. Ya betul juga sih, MasyaAllah.

Ternyata bertani itu lumayan susah dan meletihkan, butuh jam terbang, apalagi bertani organik (pantesan sayur organik harganya mahal). Masalah utama saya ya itu, gulma. Baru juga di pagi hari saya nyabutin rumput, pagi besoknya rumputnya udah tumbuh lagi. Akhirnya, saya lama-lama malas membersihkan gulma, dan jadilah kebun saya yang rapi dan cantik menjadi penuh rumput liar lagi :”)
.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian, saya membeli beberapa stup lebah klanceng, untuk penelitian. Penelitian saya bertopik tentang behaviour lebah dalam mencari pakan. Jadi tiap pagi, siang, dan sore hari saya mengamati tanaman di sekitar rumah saya untuk mencari lebah yang sedang hinggap mencari pakan. Saya melakukan pengamatan itu selama satu bulan.

Selama pengamatan itu, saya jadi lebih memperhatikan hal-hal yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya. Ternyata, ada banyak lebah madu jenis lain yang mencari pakan di sekitar rumah saya, yang artinya sarang mereka juga sebenarnya terletak tidak jauh dari rumah saya. Selain itu, masih ada banyak sekali jenis serangga lain yang setiap hari juga mencari pakan pada tanaman-tanaman di sekitar rumah saya.

Tentu, saya juga melakukan pengamatan di kebun sayur saya (yang sudah tidak terawat karena saya sudah capek berurusan dengan gulma). Walaupun sebelumnya selama beberapa bulan saya selalu ada di kebun itu, tapi saya baru sadar bahwa ternyata kebun itu ramai sekali oleh berbagai serangga yang sibuk lalu lalang dan hinggap sana sini. Kebun itu jadi terasa mirip seperti pasar yang ramai di pagi hari. Banyak makhluk yang mencari penghidupan di sana.

Hal yang menarik adalah, gulma-gulma yang dulu sering bikin saya menarik napas panjang itu, ternyata punya banyak pengunjung. Gulma-gulma itu jadi mirip lapak sayur yang ramai oleh ibu-ibu yang sedang berbelanja. Ada lebah, semut, dan serangga-serangga lain yang saya gak tahu namanya setiap hari selalu rutin mengunjungi gulma-gulma itu. Itu adalah makhluk hidup yang terlihat oleh mata saya. Saya rasa, ada lebih banyak lagi makhluk hidup yang tidak terlihat oleh mata yang setiap hari juga rutin mengunjungi gulma-gulma itu. Kutu, ulat, mikroba, belum lagi makhluk hidup yang ada di tanah dan akarnya, banyak sekali.
.
.
.
.
.
Menurut kamu, apa hikmah yang bisa kamu ambil dari fakta itu?

Yuk coba kita berpikir dan merenung sebentar, hehehe.

Kalo menurut saya pribadi, hikmah yang saya dapat dari hal itu adalah, ternyata gak mungkin Allah menciptakan sesuatu tanpa ada tujuannya. Sebelumnya, saya berpikir bahwa gulma itu mengganggu, bikin tanaman saya kurus, susah dibasmi, tidak cantik dipandang. Iya, itu menurut saya sebagai manusia. Tapi, sudut pandang serangga dan makhluk-makhluk lain ternyata berbeda. Menurut mereka, gulma-gulma itu bisa jadi adalah ladang rezeki, tempat mencari pakan, bahkan mungkin juga rumah bagi mereka. Gulma yang tidak pernah dianggap berharga oleh manusia itu, ternyata bisa sangat berarti di mata makhluk lain.

Iya gais, Allah tidak mungkin “iseng” dalam menciptakan sesuatu. Tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu tanpa ada tujuannya, tanpa ada artinya. Sekarang saya dan kamu belajar bahwa Allah menciptakan gulma, salah satu tujuannya ternyata adalah sebagai sumber rezeki bagi sebagian makhluknya. Selama ini, banyak dari kita yang belum sadar, belum paham, makanya selalu menganggap gulma itu merugikan. Begitupun juga makhluk-makhluk lain. Nyamuk, babi, ular, bahkan virus covid-19 pun, pasti ada tujuannya kenapa diciptakan.

Jika mau dipahami lagi, saya rasa sebenarnya kita bisa banyak belajar dari gulma. Beberapa dari kita mungkin pernah merasa sedang berada di titik terendah dalam hidup. Merasa kehilangan harga diri, merasa hilang motivasi, merasa tidak berarti, merasa tidak bermanfaat bagi siapapun. Padahal sekali lagi, Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa tujuan, tanpa arti, tanpa manfaat. Gulma yang kelihatannya cuma memberi dampak buruk bagi kita, ternyata punya manfaat yang sangat besar bagi banyak makhluk Allah yang lain. Begitupun kita, manusia, makhluk paling mulia yang Allah ciptakan, jangan sampai kita berpikir bahwa hidup kita tidak berarti. Allah tidak mungkin “iseng” menciptakan saya dan kamu. Kita pasti punya alasan yang kuat kenapa kita harus lahir ke dunia ini, hidup di lingkungan ini, berada di kondisi ini. Pasti ada alasannya, pasti ada manfaatnya. Iya kan?

Maka, kalau suatu saat saya atau kamu sedang merasa ada di titik terendah, merasa tidak berharga, coba kita menunduk sebentar, melihat gulma dan serangga yang mungkin ada di sekitar kita. Ayo ingat-ingat lagi bahwa pasti ada alasan dan manfaat kenapa gulma itu harus tumbuh disana, seperti pasti ada alasan dan manfaat kenapa saya dan kamu harus berada di kondisi seperti yang sedang kita alami.
.
.
.
.
.
Kalau menurut kamu pribadi, gimana? Hikmah apa yang bisa kamu ambil dari fakta gulma tadi?

Terima kasih sudah mau membaca, mohon dikoreksi jika mungkin ada kesalahan. Kritik dan saran silakan disampaikan secara pribadi melalui dm ke akun Instagram @selladzulkhija 🙂

Semoga segala urusan kita selalu dimudahkan. Aamiin.

Tinggalkan komentar