Ini hari ke-5 saya menjalankan challenge 180 hari menulis.
Saya tidak punya ide.
Saya tumbuh sebagai anak yang suka membaca. Sejak kecil, sejak di usia yang tidak saya ingat, Ibu selalu membelikan saya majalah maupun buku anak-anak. Ibu membacakan kisah-kisah di dalamnya, dengan intonasi yang menarik, ekspresi yang lucu, sehingga saya tidak bosan. Saya suka sekali setiap Ibu bercerita.
Saya saat itu juga suka “membaca” gambar-gambar di dalam buku dan majalah yang dibeli Ibu. Gambar kiriman pembaca, komik, ilustrasi cerpen, iklan, semuanya saya “baca”. Ya, saya sudah suka membaca bahkan sejak saya belum bisa membaca.
Saya masuk TK di usia 3 tahun. Masuk SD di usia 5 tahun. Singkat cerita, saya tumbuh menjadi anak yang terobsesi untuk membaca. Buku pelajaran, koran nasi bungkus, kemasan jajan, papan reklame, semua habis saya baca. Saya tumbuh menjadi seorang kutu buku yang bahagia. Saya ingat, saat kelas 6 SD, koleksi bacaan saya sudah satu lemari.
Saat masuk SMP, saya masih jadi seorang kutu buku. Disana ada perpustakaan dengan koleksi yang cukup menarik sehingga saya punya banyak bahan bacaan baru. Saya tidak perlu lagi membaca ulang koleksi bacaan saya yang beberapa mungkin sudah saya baca puluhan kali. Saat itu, saya merasa jadi kutu buku paling bahagia di dunia.
Tapi, di usia ABG seperti itu, di masa pubertas dimana terjadi berbagai perubahan dari masa anak-anak menuju remaja, saya mulai merasa ada yang aneh. Saya merasa cupu. Saya merasa bahwa orang yang suka membaca itu tidak keren. Dan hal itu diaminkan oleh lingkungan. Hanya saya yang suka membaca di sekolah. Saya merasa seperti alien, makhluk aneh yang berkeliaran diantara anak-anak lain yang mulai sibuk menikmati masa pubernya. Akhirnya, saya terpengaruh. Saya mulai meninggalkan buku. Saya mulai tertarik pada hal-hal lain. Fashion, jalan-jalan, rumpi, main ke rumah temen. Ya, si kutu buku kecil sudah mulai beranjak remaja.
Singkat cerita, hal itu berlanjut terus hingga saya masuk kuliah. Di usia kuliah, dengan berbagai kesibukannya, dengan segala tugas yang memaksa saya harus membaca berbagai bahan perkuliahan, saya sudah benar-benar lupa pada kecintaan saya pada buku. Saya sudah lelah membaca berbagai materi kuliah. Saya sudah kenyang membaca hal-hal rumit seharian. Tidak ada waktu lagi untuk membaca hal lain. Saya capek. Saya ingin rebahan sambil nonton YouTube saja.
Tapi, di semester 4 perkuliahan, ada seorang kawan memberi saya hadiah 2 buah buku. Buku karya Andrea Hirata dan Tere Liye. Ini menjadi titik balik bagi saya. Sudah terlalu lama Si Kutu Buku lupa pada rumahnya. Si Kutu Buku ingat, dulu dia pernah bahagia sekali menyelami ratusan lembar kertas berisi tulisan. Hari itu, saya merasa tertarik untuk membaca lagi.
Saya pun membaca novel-novel itu. Kemudian, saya merasakan ada perasaan yang sangat familiar. Saya merasa seperti menemukan lagi cinta pertama saya yang entah selama ini pergi kemana. Saya merasakan lagi rasa itu, rasa hanyut dalam setiap kata, sensasi memproyeksikan seluruh kalimat menjadi satu film yang utuh dan indah. Perlahan, saya merasa kembali suka membaca.
Tapi, sekian lama tidak membaca, ditambah dengan berbagai kesibukan yang melelahkan, membuat saya harus kembali membiasakan diri. Pelan-pelan saya mulai membaca lagi, menyicil membeli buku lagi, yang hingga kini masih banyak yang bersegel, belum dibuka. Sampai sekarang, saya masih belum bisa seterobsesi dulu dalam membaca. Saya hanya membaca sebelum tidur. Tidak lama. Tidak banyak. Tidak lagi layak disebut kutu buku.
Ternyata, kebiasaan dan kecintaan yang dibangun sejak kecil pun bisa hilang jika tidak dijaga dengan baik. Saya sempurna tumbuh sebagai seorang kutu buku. Valid. No debat. Saya membaca apapun yang bisa saya baca kala itu. Tapi, lingkungan yang kurang tepat menjadikan si kutu buku ini lupa diri, lupa pada apa yang sudah jadi kecintaannya sejak dini. Seorang guru pernah berkata bahwa menulis satu paragraf senilai dengan membaca 1 buku. Pantas saja saya saat ini selalu buntu saat mau menulis. Sudah berapa banyak buku yang dibaca oleh mantan kutu buku ini?
Maka, ternyata, memilih lingkungan yang tepat itu penting sekali. Lingkungan yang tidak suka membaca bisa membuat si kutu buku lupa terhadap bukunya. Begitupun, lingkungan yang baik juga akan membawa kita menjadi baik, dan lingkungan yang buruk juga bisa membawa kita menjadi buruk. Maka, pastikan bahwa di sekitarmu ada orang-orang baik, yang selalu bisa jadi tempatmu kembali saat kamu mulai merasa terwarnai oleh hal yang tidak baik.
Pelajaran lainnya adalah, jika ingin seorang anak tumbuh menjadi orang yang suka membaca, kenalkan mereka pada buku sejak dini. Jaga lingkungannya supaya kecintaan yang sudah dilukis indah itu tidak hilang. Dampingi mereka supaya mereka bisa memilih bacaan-bacaan yang baik. Karena, jika nafkah fisik adalah makanan, maka nafkah pikiran adalah bacaan. Pikiran tentu perlu diberi nafkah yang baik, yaitu bacaan yang baik.
Udah. Gitu aja. Bingung mau nulis apa.
Ayo dong, yang antusias lagi baca bukunya :”)