Helikopter

“Lho, Le, ono pesawat kae abane” (lho, nak, ada pesawat itu suaranya).

Suara ibu terdengar dari arah dapur. Adik yang sedang main bersamaku di ruang tamu langsung berlari ke arah teras. Di teras rumah sebelah juga ada 4 gadis kecil, sepupu-sepupuku dan teman-temannya, yang juga berlari entah dari arah mana. Semuanya kompak mendongak, melihat langit.

“Waaahhhh… Dadaaahhh… Dadaaahhhh…” Begitu kira-kira teriakan gadis-gadis kecil usia kelas 1 sampai 4 SD itu. Mereka melambaikan tangan ke angkasa sambil bersorak riang, kegirangan. Adik laki-lakiku yang sudah kelas 5 SD terlihat ingin stay cool, tidak bersorak, tidak dadah-dadah, hanya mata dan kepalanya yang khidmat mengikuti gerakan benda yang terbang di langit itu. Bukan pesawat ternyata, helikopter.

Entah ada apa hari ini. Di pelosok andalas ini, jarang sekali ada helikopter terbang rendah seperti tadi. Helikopternya terlihat besar, sebesar helikopter mainan. Pantas saja adik dan sepupu-sepupu kecilku suka. Mereka kan biasanya hanya bisa melihat helikopter dari layar kaca.

Aku kecil juga begitu. Aku dan kakak sepupuku ketika masih kecil dulu, selalu takjub saat melihat pesawat terbang melintasi langit di atas tempat tinggal kami. Kami juga melakukan hal yang sama, tertawa-tawa, melompat-lompat, dadah-dadah, dan “minta uang” ke pesawat. Entah siapa yang mengajari kami untuk seperti itu, seingatku sepertinya kami meniru adegan di film ketika ada orang menyebar uang dari atas pesawat. Konyol jika diingat.

Jika aku kecil di masa lalu melihat helikopter yang terbang rendah tadi, aku juga pasti bahagia sekali. Senang melihat “bintang film” yang biasanya cuma bisa aku lihat di televisi sekarang ada di atas langit rumahku. Tapi uniknya, aku dewasa yang sekarang ternyata biasa saja melihatnya. Aku tersenyum bahagia karena melihat adik dan sepupu-sepupu kecilku tertawa kegirangan. Tapi dalam hal melihat helikopternya, aku tidak takjub, tidak tertawa-tawa, tidak melompat-lompat, tidak dadah-dadah lagi seperti dulu. Kenapa?

Entah. Mungkin karena aku sekarang sudah melihat lebih banyak hal dibandingkan aku kecil. Mungkin karena aku sekarang juga sudah tahu lebih banyak hal yang lebih “menakjubkan” dibandingkan aku kecil. Mungkin juga, karena aku sekarang sudah berulang kali merasakan rasanya “mengudara” sehingga hal-hal seperti itu rasanya sudah biasa saja bagiku.

Iya, ternyata, semakin banyak “nikmat” yang kita dapat, kita secara alami cenderung lebih sulit untuk merasa bahagia atas nikmat itu. Lupa bahwa itu adalah nikmat. Pernah dengar hukum dalam ilmu ekonomi tentang tambahan kepuasan yang semakin berkurang? Saat kita haus dan minum satu gelas air, kita akan merasa sangat puas, sangat bahagia, skor kepuasan kita 10. Saat kita meminum gelas kedua, kepuasan kita bertambah menjadi 15, namun tingkat pertambahannya lebih sedikit bukan? Hanya ada tambahan 5 kepuasan, dari 10 menjadi 15. Bukankah pada gelas pertama pertambahan kepuasan kita adalah 10? Hal yang terjadi akan terus begitu hingga akhirnya kita merasa bahwa minum air adalah hal yang sudah tidak nikmat lagi. Iya kan, kita memang begitu?

Pernah dengar juga kisah tentang seorang gadis buta yang mengira bahwa ayam hanya punya bagian sayap? Sayap ayam adalah bagian karkas yang paling murah harganya, dan bagian itulah yang mampu orangtuanya belikan untuknya. Tapi, dia sangat bahagia walau selalu hanya bisa makan sayap ayam, karena dia tidak tahu bahwa ayam juga punya bagian paha. Dia adalah gadis paling bahagia sedunia, karena dia mampu memiliki apa yang dia tahu. Di sisi lain, ada gadis lainnya yang tidak buta dan juga hanya bisa makan sayap ayam. Dia merasa sebagai gadis paling sedih sedunia, karena tidak bisa memiliki apa yang dia tahu, paha ayam. Padahal, bukankah gadis yang tidak buta harusnya lebih bahagia karena dia bisa melihat?

Ternyata, bahagia atau tidaknya kita, itu semua tergantung cara pandang. Jika kita selalu mengejar apa yang kita tahu tentang dunia, kita tidak akan pernah bahagia, karena pasti selalu ada hal yang memang tidak bisa kita miliki. Hal yang dulu membuat kita bahagia dan ingin kita miliki, ketika kita berhasil memilikinya, hal itu akan jadi terasa biasa saja, tidak menakjubkan lagi, tidak membahagiakan lagi. Akhirnya, kita akan mencari hal lain yang lebih menakjubkan supaya kita bahagia. Siklus itu berlangsung terus, hingga muncullah sifat tamak, muncullah sifat tidak bersyukur.

Seorang teman pernah berkata, kadang dia hanya butuh membuat es teh manis lalu meminumnya saja untuk jadi bahagia. Karena dia pikir, membuat es teh manis adalah hal yang menakjubkan. Bukankah tidak semua orang bisa membuat dan meminum es teh manis? Iya, bahagianya dia ciptakan sendiri. Hal menakjubkannya dia hadirkan sendiri dalam pikiran.

Aku juga ingin bahagia dengan sederhana. Sesederhana adik dan sepupu-sepupuku yang bahagia melihat helikopter (maupun pesawat) yang terbang di angkasa. Sesederhana si gadis buta yang bahagia memakan sayap ayam. Sesederhana temanku yang bahagia membuat es teh manis. Walaupun sebenarnya aku tahu ada banyak hal yang “lebih menakjubkan” dibandingkan helikopter, sayap ayam, dan es teh manis, aku ingin tetap bisa merasa bahagia saat melihat mereka. Bisakah? Bisa.

Bisa, jika kita mau melihat segala hal dari berbagai sudut pandang. Bisa, jika kita mau bersyukur. Melihat helikopter mungkin biasa saja, tapi bukankah melihat tawa adik dan sepupu-sepupu kita adalah hal yang membahagiakan? Sayap ayam mungkin biasa saja, tapi bukankah nikmat perut kenyang dan tubuh sehat merupakan hal yang harus kita syukuri? Membuat es teh manis juga mungkin biasa saja, tapi bukankah pengelihatan, tangan, kaki, insulin yang stabil, pikiran yang sehat, semua itu juga merupakan nikmat yang harus kita syukurkan?

Intinya, tidak perlu hal-hal yang “wah” untuk membuat diri kita bahagia. Karena, mengejar hal “wah” di dunia ini tidak akan kenal sudah, cuma bikin kita lelah. Bahagia itu bisa kita ciptakan sendiri dengan cara melihat segala hal dari berbagai sudut pandang, kemudian bersyukur. Iya, bersyukur.

Bersyukurlah, maka nikmatmu akan ditambah.

Tinggalkan komentar