Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah kepada kalian.
Empat bulan lamanya blog ini tidak saya kunjungi. Pemantik yang membuat saya kembali menengok blog ini adalah pertemuan saya dengan seorang pria paruh baya siang ini. Pertemuan yang mengingatkan saya kembali untuk tidak terlalu banyak khawatir dengan kehidupan.
Nama pria paruh baya itu, sebut saja “Sarmin”. Tempat tinggalnya berjarak sekitar 10 rumah dari rumah saya. Dia pria yang sangat populer. Saya rasa, hampir seluruh warga desa mengenal Sarmin. Sarmin bukan pejabat, bukan pula orang paling kaya di desa. Sarmin adalah seorang pemulung.
Saya memanggilnya hanya dengan nama, “Sarmin”, tanpa embel-embel Pak, Om, atau yang lainnya. Terdengar tidak sopan ya dalam adat masyarakat Jawa? Iya, saya juga baru sadar dewasa ini. Saya harusnya memanggil Sarmin dengan panggilan “Dhe Sarmin”, karena umurnya ternyata lebih tua dari umur ayah saya. Tapi mau bagaimana, sejak kecil saya sudah terbiasa memanggilnya seperti itu. Sepertinya justru akan sangat canggung jika saya memanggilnya “Dhe”. Ya sudah, tak apa, toh semua orang baik tua maupun muda di desa ini juga hanya memanggilnya dengan nama. Entahlah apa alasannya, mungkin karena Sarmin adalah seorang yang sering disebut oleh warga sebagai orang yang “kurang satu ons”.
Saat kamu melihat dan berbicara dengan Sarmin, kamu mungkin akan bisa tahu bahwa dia sedikit berbeda. Dia sering tertawa sendiri, kerap pula berbicara sendiri. Saya saat kecil dulu takut sekali pada dia, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang saya malah suka mendengarkan dia saat dipanggil oleh simbah untuk diajak mengobrol di teras rumah.
“Kamu dapat uang berapa, Le?”
simbah bertanya pada Sarmin yang mampir ke rumah, dipanggil saat sedang lewat pulang dari menjual sampah.
“Anu, hehehe. Ini, hehehe.”
jawabnya sambil mengelurakan dompet.
“Weh, banyak gitu e. 20 ribu. Habis kamu pakai buat apa uangnya?”
“Ini, hehehe. Rokok, hehehe. Sama ini, hehehe. Buat Paidi, heheheh”
jawab Sarmin sambil menunjukkan sebungkus rokok dan sebungkus roti harga seribuan. Rokoknya dipakai sendiri, rotinya diberikan pada adiknya, Paidi.
Saya juga jadi tertarik ingin ngobrol dengan Sarmin. Saya bertanya,
“Kamu capek enggak kalo mulungnya jalan jauh kayak gitu, Min?”
“Enggak, hehehe”
“Lho, enggak capek? Lha badanmu kadang pegel-pegel enggak?”
“Enggak, hehehehe”
“Oh, enggak juga? Lha kamu pernah sakit enggak?”
“Enggak, hehehehe”
Saya dari kecil memang tidak pernah melihat Sarmin sakit. Lihat dia batuk atau pilek saja tidak pernah.
“Gusti Allah itu memang adil ya, Nduk. Orang kayak Sarmin ini, kok ya gak pernah dikasih sakit. Mbah juga, memang gak pernah lihat dia sakit. Padahal dia ngerokok, gak pernah sikat gigi, kerjanya mulung sampah, jalan jauh kepanasan tiap hari, tapi ya sehat tuh badannya.”
Simbah bercerita. Terkonfirmasi, ternyata benar, Sarmin tidak pernah (atau setidaknya tidak pernah terlihat) sakit. Dia sehat dan segar di usianya yang sudah hampir 50 tahun.
Simbah menambahkan,
“Penghasilannya Sarmin ini kalau buat kita, gak akan cukup, nduk. Tapi buat Sarmin, gendheng-gendheng lah, uangnya selalu cukup lho buat dia hidup.”
Obrolan berlanjut. Saya dan simbah banyak mengajak Sarmin bicara. Selalu kami yang bertanya, Selalu Sarmin yang menjawab. Memang, begitulah cara komunikasinya.
Banyak hal yang kami bicarakan. Sarmin kapan nikah, Sarmin ganteng apa enggak, Sarmin pas lebaran punya baju baru berapa, Sarmin tadi makannya lauk apa, dan banyak lagi. Dari obrolan inilah, saya mendapat pengingat bahwa kita tidak perlu khawatir dengan persoalan dunia.
Sarmin memang agak berbeda. Dia suka tertawa sendiri dan sering meracau sendiri. Tidak ada orang mau menjadikannya karyawan. Akhirnya, dia memulung.
Pendapatan hasil memulung Sarmin, jika dihitung dengan logika, tak akan cukup untuk makan. Apalagi, Sarmin merokok. Tapi, nyatanya, Sarmin tidak pernah kelaparan. Rokoknya juga selalu lancar. Dia punya 4 pakaian baru saat lebaran kemarin. Dia juga punya tas selempang kekinian. Bagaimana bisa? Bisa, karena ternyata pendapatan itu tidak sama dengan rezeki.
Pendapatan Sarmin memang tidak banyak, tapi, Sarmin tidak pernah kelaparan karena saat dia bekerja memulung sampah, ada banyak orang yang selalu menawarinya makan. Sarmin juga selalu punya baju baru saat lebaran, karena selalu ada orang yang memberikan baju untuk dia pakai di hari raya. Sarmin tentu juga tidak paham dengan tren tas kekinian, tapi ada saja orang baik yang memberinya tas, supaya barang bawaannya tidak jatuh. Sarmin bahkan tak pernah membawa bekal air minum saat memulung walau jarak yang ditempuh berkilo-kilo meter. Saat dia haus, selalu saja ada yang memberinya minum.
Sarmin juga mungkin tidak paham apa itu rezeki. Sarmin hanya tahu bahwa ia harus mengumpulkan sampah, menjualnya ke pengepul, dan menggunakan uang hasilnya untuk membeli rokok dan makanan yang ada di warung. Tapi, tenyata, rezeki Sarmin selalu dicukupkan. PENDAPATANnya memang hanya cukup untuk membeli rokok dan sedikit makanan, tapi REZEKInya cukup untuk selalu membuatnya kenyang, punya pakaian yang layak, bahkan tubuh yang selalu sehat.
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344)
Rezeki Sarmin cukup karena dia mau berusaha. Dia pergi dari rumah, bekerja mengumpulkan sampah, lalu pulang dengan keadaan rezekinya sudah terpenuhi hari itu. Saat anak kos sering kali harus irit, makan sehari dua kali dengan lauk seadanya, Sarmin ternyata bisa makan 3 kali sehari dengan menu yang sering kali lebih mahal dan lebih bergizi daripada menu kita. Bukankah artinya rezeki makan Sarmin ternyata lebih enak daripada rezeki makan kita?
Rezeki Sarmin tidak pernah kurang maupun terlambat. Rezekinya selalu cukup, selalu datang tepat waktu dari arah yang tidak disangka-sangka. Badannya bahkan juga dijadikan selalu sehat, tanpa perlu perawatan macam-macam.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Iya, itulah rezeki. Besaran gaji dan pendapatan kita ternyata bukan penentu besarnya rezeki kita. Berapa banyak orang yang punya pendapatan tinggi, namun hidupnya selalu merasa kekurangan? Berapa banyak pula orang yang punya pendapatan sedikit, namun hidupnya selalu merasa cukup, bahkan selalu bisa memberi? Tengok Sarmin, dia masih bisa memberi adiknya roti, walaupun sepotong. Kalau kita di posisi seperti itu, apakah kita bisa sedermawan Sarmin?
Kunci dari kecukupan rezeki kita ternyata adalah berusaha, kemudian tawakal, berserah diri, menyerahkan semuanya pada kehendak Allah. Rezeki pun tidak selalu tentang pendapatan. Jodoh, karir, kesehatan, ilmu, keturunan, itu semua juga rezeki. Kita tidak perlu terlalu khawatir, rezeki kita pasti akan sampai pada saat yang tepat. Kita hanya perlu berusaha, kemudian berserah diri. Iya, kan?
Jika suatu saat nanti kita merasa khawatir tentang kehidupan, coba kita ingat Sarmin, tetangga saya tadi. Bukankah walaupun dia memiliki “kekurangan”, asal dia mau keluar rumah untuk bekerja, maka rezekinya selalu dicukupkan? Jika memang begitu, lalu kenapa kita masih selalu khawatir? 🙂